Banjir Bandang
22 Desa Hilang Usai Digenang Banjir Bandang. Tragedi banjir bandang dan longsor di Sumatra akhir 2025 ini meninggalkan luka mendalam, dengan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengungkap ada 22 desa yang “hilang”—artinya tersapu atau rusak parah hingga tak berfungsi lagi. Data per 29 Desember 2025 ini tersebar di tiga provinsi: 13 desa di Aceh (terparah di Aceh Tamiang dan Aceh Utara), 8 di Sumatera Utara, dan 1 di Sumatera Barat. Bencana sejak akhir November ini sudah tewaskan ratusan berita harian jiwa, ribuan luka, dan jutaan terdampak—banyak desa berubah jadi aliran sungai permanen. Pemerintah percepat pemulihan, tapi kondisi lapangan masih berat. Apa yang bikin 22 desa ini lenyap, dan bagaimana nasib warganya?
Sebaran dan Kondisi Desa yang Hilang
Dari 22 desa, Aceh paling parah dengan 13 yang tersapu lumpur dan kayu gelondongan—seperti di Aceh Tamiang, di mana desa-desa dekat sungai hilang total, hanya tersisa masjid atau puing. Di Sumut, 8 desa di Tapanuli Tengah dan Batang Toru berubah jadi danau lumpur, akses terputus berhari-hari. Sumbar satu desa di Agam yang alirannya berubah permanen. Foto udara tunjukkan: rumah rata tanah, jalan jadi sungai baru, dan infrastruktur seperti kantor desa (1.580 rusak total) lumpuh.
Banyak desa ini di lereng atau tepi sungai, bikin banjir bandang sapu bersih dalam hitungan jam. Warga selamat cerita: air naik tiba-tiba malam hari, bawa kayu besar yang hancurkan segalanya. Kini, ribuan mengungsi di tenda darurat, stok makanan menipis, dan risiko penyakit pasca-banjir naik.
Penyebab dan Faktor Pendukung Untuk Banjir Bandang
Banjir ini dipicu hujan ekstrem 300 mm/hari sejak akhir November, plus bibit siklon tropis dan La Niña yang perkuat awan kumulonimbus. Tapi faktor manusia dominan: deforestasi masif untuk sawit dan tambang kurangi tutupan hutan jadi spons air—di Batang Toru saja, hilang ribuan hektar. Sungai tersumbat sedimentasi dan kayu ilegal, bikin luapan lebih ganas. Pakar bilang, ini kombinasi cuaca ekstrem dengan kerentanan ekologis—bukan alam semata, tapi akumulasi kerusakan lingkungan bertahun-tahun.
Di Aceh Tamiang, desa hilang karena sungai meluap 7-10 meter, bawa lumpur tebal. Mirip Sumut dan Sumbar: longsor dari bukit gundul sapu permukiman bawah.
Upaya Pemulihan dan Respons Pemerintah Terhadap Banjir Bandang
Pemerintah gerak cepat: Tito Karnavian kirim 1.054 personel IPDN mulai Januari 2026 untuk bantu dokumen kependudukan hilang di Aceh Tamiang-Utara. BNPB distribusi logistik via udara, TNI buka akses jalan pakai alat berat, dan surat edaran baru untuk revisi APBD daerah terdampak. Fokus rekonstruksi: relokasi desa rawan, bangun tanggul, dan reboisasi. Bantuan internasional ditolak, tapi donasi domestik banjir—termasuk dapur umum dan tenda.
Warga mulai bangun ulang pakai kayu sisa, tapi tantangan besar: trauma, hilang dokumen, dan ekonomi lumpuh.
Kesimpulan
22 desa hilang usai banjir bandang Sumatra jadi pengingat tragis betapa rapuhnya permukiman di zona rawan—dari Aceh 13, Sumut 8, Sumbar 1. Ini bukan akhir, tapi panggilan rebuild lebih kuat: relokasi bijak, hentikan deforestasi, dan siaga dini. Pemerintah sudah gerak, tapi butuh solidaritas kita semua—donasi atau dukungan moral. Semoga warga cepat pulih, desa-desa bangkit lagi, dan 2026 bawa pelajaran berharga. Tetap waspada, ya—alam ingatkan kita hidup harmonis dengannya.