Sopir Angkot di Kota Bogor Sedang Demo. Demonstrasi sopir angkot Bogor kali ini menjadi salah satu yang terbesar dalam dua tahun terakhir. Para sopir mengaku sudah tidak tahan dengan biaya operasional yang terus naik sementara pendapatan harian menurun drastis. Harga bahan bakar yang masih tinggi, ditambah persaingan ketat dari angkutan daring, membuat banyak sopir merasa terjepit. Mereka membawa spanduk bertuliskan tuntutan seperti “Turunkan Harga BBM”, “Hentikan Parkir Liar”, dan “Lindungi Angkot Tradisional”. Aksi berlangsung damai meski sempat ada ketegangan saat massa mencoba mendekati pintu masuk balai kota. Polisi dan Satpol PP dikerahkan untuk mengamankan jalannya demonstrasi, sementara perwakilan sopir diterima oleh pejabat terkait untuk menyampaikan aspirasi secara langsung. BERITA TERKINI
Penyebab Utama Kemarahan Sopir Angkot: Sopir Angkot di Kota Bogor Sedang Demo
Sopir angkot mengeluhkan kenaikan harga bahan bakar yang tidak diimbangi dengan penyesuaian tarif angkutan umum. Tarif angkot di Bogor masih mengacu pada ketetapan lama, sementara biaya solar dan oli melonjak hampir 30 persen dalam setahun terakhir. Selain itu, retribusi parkir liar di terminal dan pangkalan menjadi beban berat—banyak sopir harus membayar hingga 50 ribu rupiah per hari hanya untuk bisa beroperasi. Persaingan dengan angkutan daring juga menjadi isu utama; aplikasi daring menawarkan tarif lebih murah dan kemudahan pemesanan, sehingga penumpang angkot konvensional semakin sedikit. Para sopir merasa tidak ada perlindungan dari pemerintah daerah, terutama dalam hal pengaturan trayek dan penegakan aturan agar angkutan daring tidak mengambil rute yang sama. Beberapa sopir senior mengatakan pendapatan harian mereka kini hanya sekitar 80–120 ribu rupiah, bahkan kadang tidak cukup untuk isi bahan bakar pulang-pergi.
Respons Pemerintah Daerah dan Situasi di Lapangan: Sopir Angkot di Kota Bogor Sedang Demo
Wakil Wali Kota Bogor menerima perwakilan sopir sekitar pukul 10.30 WIB dan mendengarkan tuntutan secara langsung. Pihak pemerintah berjanji akan membahas ulang tarif angkot dalam waktu dekat serta berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk menertibkan parkir liar di terminal dan pangkalan. Namun, tidak ada keputusan konkret yang diumumkan saat itu, sehingga massa tetap bertahan hingga siang hari. Demonstrasi berlangsung damai tanpa bentrok, meski sempat ada insiden kecil ketika beberapa sopir mencoba memblokir jalan lebih luas. Polisi lalu lintas mengalihkan kendaraan ke rute alternatif seperti Jalan Pajajaran dan Jalan Suryakencana, tapi kemacetan tetap parah hingga pukul 13.00 WIB. Beberapa warga yang biasa menggunakan angkot terpaksa berjalan kaki atau mencari ojek daring karena angkot tidak beroperasi di sejumlah trayek selama aksi berlangsung.
Dampak bagi Masyarakat dan Prospek Penyelesaian
Masyarakat pengguna angkot menjadi korban langsung dari demonstrasi ini. Banyak pekerja, pelajar, dan ibu rumah tangga kesulitan mencari transportasi murah ke tempat tujuan. Beberapa trayek utama seperti Bogor–Ciawi, Bogor–Cibinong, dan trayek dalam kota lumpuh sementara, memaksa warga beralih ke angkutan lain yang tarifnya lebih mahal. Pedagang di terminal dan pinggir jalan juga merasakan penurunan omzet karena minimnya penumpang. Pemerintah daerah menyatakan akan membentuk tim khusus untuk mengevaluasi tarif angkot dan mengatur operasional angkutan daring agar tidak saling tumpang tindih. Sopir angkot berjanji akan membubarkan diri secara tertib setelah perwakilan mereka mendapat jaminan bahwa tuntutan akan ditindaklanjuti dalam waktu satu minggu. Demonstrasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa sektor transportasi umum tradisional masih membutuhkan perlindungan agar tetap bertahan di tengah persaingan digital.
Kesimpulan
Demonstrasi sopir angkot di Kota Bogor kali ini mencerminkan keresahan nyata dari pekerja sektor informal yang terjepit biaya operasional tinggi dan persaingan ketat. Tuntutan mereka soal penurunan harga bahan bakar, penghapusan retribusi liar, dan perlindungan trayek patut mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah. Meski aksi berlangsung damai, kemacetan dan gangguan mobilitas warga menjadi dampak langsung yang dirasakan semua pihak. Pemerintah punya waktu singkat untuk menunjukkan komitmen nyata melalui kebijakan yang berpihak pada sopir angkot tanpa mengorbankan kepentingan penumpang. Semoga dialog ini berujung pada solusi yang menguntungkan semua, sehingga angkot tetap menjadi tulang punggung transportasi murah di Bogor tanpa harus turun ke jalan setiap saat.