Meriyati Hoegeng Dimakamkan Kedinasan Polri. Meriyati Hoegeng, istri almarhum Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, mantan Kapolri yang dikenal sebagai teladan integritas, dimakamkan dengan upacara kedinasan Polri pada 5 Februari 2026 di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta. Almarhumah meninggal dunia pada 2 Februari 2026 di usia 92 tahun setelah menjalani perawatan di RSPAD Gatot Soebroto akibat komplikasi usia tua. Upacara pemakaman dipimpin langsung Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan dihadiri ratusan anggota Polri aktif maupun purnawirawan, keluarga besar, serta tokoh masyarakat. Prosesi ini menjadi penghormatan terakhir Polri kepada sosok yang selama puluhan tahun mendampingi Hoegeng dengan kesetiaan dan kesederhanaan. INFO CASINO
Prosesi Upacara Kedinasan: Meriyati Hoegeng Dimakamkan Kedinasan Polri
Upacara dimulai pukul 09.00 WIB dengan penghormatan terakhir di Rumah Duka RSPAD Gatot Soebroto. Jenazah Meriyati kemudian dibawa menggunakan mobil jenazah Polri menuju TMP Kalibata. Di lokasi pemakaman, Kapolri Listyo Sigit Prabowo memimpin upacara dengan penuh khidmat, diikuti tabur bunga oleh keluarga, pejabat tinggi Polri, dan perwakilan masyarakat.
Meriyati dimakamkan di areal pemakaman purnawirawan Polri, bersebelahan dengan makam suaminya, Jenderal Hoegeng, yang wafat pada 2004. Upacara ditutup dengan doa bersama dan penghormatan terakhir berupa tembakan salvo serta tiupan terompet “Last Post”. Ribuan anggota Polri yang mengikuti prosesi tampak mengenakan seragam lengkap, mencerminkan rasa hormat tinggi institusi terhadap keluarga Hoegeng.
Riwayat Hidup dan Peran Meriyati: Meriyati Hoegeng Dimakamkan Kedinasan Polri
Meriyati Hoegeng lahir pada 15 Juli 1933 di Yogyakarta. Ia menikah dengan Hoegeng pada 1953 dan menjadi pendamping setia selama suaminya menjalani karier panjang di kepolisian, termasuk saat menjabat Kapolri periode 1968–1971. Dikenal sederhana dan tegas menolak kemewahan, Meriyati sering menjadi contoh bagi istri-istri anggota Polri lainnya. Ia aktif dalam kegiatan sosial, terutama melalui Persatuan Istri Polri (Persit) dan berbagai yayasan kesejahteraan prajurit.
Meski hidup di tengah lingkungan kekuasaan, Meriyati selalu menjaga kesederhanaan. Ia tetap tinggal di rumah sederhana di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, bahkan setelah Hoegeng purnabakti. Hingga usia senja, ia masih sering hadir dalam acara-acara peringatan Hoegeng dan berbagi cerita tentang integritas suaminya kepada generasi muda Polri.
Penghormatan dari Polri dan Masyarakat
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam sambutannya menyebut Meriyati sebagai “ibu teladan yang mendampingi Jenderal Hoegeng dengan penuh kesetiaan dan kesederhanaan”. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai yang dipegang teguh keluarga Hoegeng tetap menjadi inspirasi bagi seluruh anggota Polri. Banyak purnawirawan yang hadir mengenang Meriyati sebagai sosok yang hangat, tegas, dan tidak pernah memanfaatkan posisi suaminya untuk kepentingan pribadi.
Masyarakat luas juga menyampaikan duka cita melalui media sosial. Banyak yang menyebut Meriyati sebagai “ibu bangsa” yang mewarisi semangat integritas Hoegeng. Beberapa komunitas sipil menggelar doa bersama secara daring dan luring untuk mendoakan almarhumah.
Kesimpulan
Pemakaman kedinasan Meriyati Hoegeng di TMP Kalibata pada 5 Februari 2026 menjadi penghormatan terakhir Polri kepada sosok yang telah mendampingi salah satu pahlawan integritas kepolisian Indonesia. Kehadiran Kapolri, pejabat tinggi, dan ribuan anggota Polri menunjukkan betapa tinggi penghargaan institusi terhadap keluarga Hoegeng. Di tengah tantangan zaman, teladan kesederhanaan dan kesetiaan Meriyati tetap relevan sebagai inspirasi bagi generasi sekarang. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, dan nilai-nilai yang ia junjung bersama Hoegeng terus hidup dalam tubuh Polri dan masyarakat Indonesia. Selamat jalan, Ibu Meriyati Hoegeng.