Banjir di Pejanten Jaksel Belum Surut. Genangan air di kawasan Pejanten, Jakarta Selatan, hingga kini belum sepenuhnya surut meski hujan sudah berhenti sejak kemarin sore. Warga setempat melaporkan ketinggian air masih berkisar 40–80 cm di beberapa ruas jalan utama dan gang kecil, membuat aktivitas warga terganggu sejak Rabu malam lalu. Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Jakarta Selatan sejak Selasa malam menjadi pemicu utama, ditambah luapan saluran mikro dan drainase yang tersumbat sampah. Banjir kali ini termasuk yang cukup lama surutnya dibandingkan kejadian serupa di bulan-bulan sebelumnya, sehingga membuat warga dan petugas gabungan bekerja ekstra untuk memulihkan kondisi. Hingga Jumat siang, sejumlah titik masih terendam dan akses kendaraan roda dua serta roda empat terbatas. BERITA VOLI
Penyebab Utama dan Kondisi Terkini: Banjir di Pejanten Jaksel Belum Surut
Banjir di Pejanten dipicu oleh intensitas hujan yang mencapai lebih dari 150 mm dalam kurun 12 jam, ditambah luapan dari saluran pembuangan sekunder yang sudah penuh lumpur dan sampah. Beberapa titik rawan seperti Jalan Pejaten Barat, gang-gang di RW 03 dan RW 05, serta area dekat Pintu Air Pejaten masih menyisakan genangan cukup dalam. Petugas gabungan dari Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat), Dinas Sumber Daya Air, serta kelurahan setempat telah mengerahkan pompa air portabel sejak Rabu malam. Namun hingga Jumat pagi, pompa masih bekerja keras karena debit air yang masuk dari hulu masih cukup tinggi akibat hujan sporadis di wilayah Bogor dan Depok. Warga melaporkan bahwa genangan sempat turun hingga 20–30 cm pada Kamis sore, tapi naik kembali setelah hujan ringan semalam. Beberapa rumah warga yang berada di level lebih rendah terendam hingga lutut orang dewasa, sehingga banyak yang mengungsi sementara ke rumah tetangga atau posko kelurahan.
Dampak dan Upaya Penanganan di Lapangan: Banjir di Pejanten Jaksel Belum Surut
Dampak banjir terasa luas di kawasan Pejanten. Puluhan rumah terendam, beberapa kendaraan roda empat terjebak dan harus diderek, serta akses ke sekolah dan tempat ibadah terganggu. Beberapa warga melaporkan kerugian material berupa perabot rumah tangga yang terendam air kotor serta stok makanan yang rusak. Petugas kesehatan kelurahan sudah mendirikan posko kesehatan untuk memantau potensi penyakit akibat air tercemar. Dinas Sumber Daya Air bersama warga dan relawan sedang membersihkan saluran mikro yang tersumbat sampah plastik dan lumpur tebal. Sedikitnya tiga unit pompa berkapasitas sedang dikerahkan di titik-titik genangan terdalam, sementara truk tinja dan armada pengangkut sampah turut membantu mempercepat penyedotan air dan pembersihan saluran. Warga setempat juga aktif bergotong royong membersihkan lingkungan sekitar rumah masing-masing agar air cepat surut. Pemerintah kelurahan sudah mendistribusikan air bersih, makanan siap saji, dan obat-obatan dasar bagi warga yang terdampak.
Upaya Pencegahan Jangka Panjang yang Mulai Dibahas
Meski fokus utama saat ini adalah penanganan darurat, warga dan perwakilan kelurahan mulai membahas langkah pencegahan agar banjir serupa tidak terulang. Beberapa usulan yang muncul antara lain normalisasi saluran mikro secara menyeluruh, pemasangan grill filter sampah di setiap muara saluran, serta sosialisasi lebih masif agar warga tidak lagi membuang sampah ke saluran. Ada juga wacana pembangunan kolam retensi kecil di beberapa titik rawan untuk menampung air hujan sementara. Pemerintah setempat menyatakan akan mengalokasikan anggaran tambahan untuk pembersihan saluran besar dan normalisasi drainase di wilayah Pejanten pada kuartal mendatang. Warga berharap langkah-langkah ini bisa direalisasikan cepat karena banjir seperti ini sudah terjadi berulang setiap musim hujan dengan intensitas yang hampir sama. Beberapa perwakilan RT/RW juga meminta agar pembangunan infrastruktur drainase melibatkan warga agar lebih sesuai dengan kondisi lapangan.
Kesimpulan
Banjir di Pejanten, Jakarta Selatan, yang belum sepenuhnya surut hingga hari ini menunjukkan bahwa masalah drainase dan pengelolaan sampah masih menjadi tantangan utama di kawasan ini. Meski petugas gabungan dan warga terus bekerja keras dengan pompa dan pembersihan saluran, genangan yang bertahan lama mengganggu aktivitas sehari-hari dan menimbulkan kerugian bagi warga. Upaya penanganan darurat sudah berjalan maksimal, namun pencegahan jangka panjang melalui normalisasi saluran, pemasangan filter sampah, dan kesadaran kolektif warga menjadi kunci agar kejadian serupa tidak terus berulang. Pemerintah setempat dan warga kini punya pekerjaan rumah yang sama: memperbaiki sistem drainase secara menyeluruh sebelum musim hujan berikutnya tiba. Hingga saat ini, warga diminta tetap waspada terhadap genangan sisa dan menjaga kebersihan lingkungan agar proses surut bisa berjalan lebih cepat.