Taiwan Sebut China Kerahkan Kapal Perang Saat Operasi Militer. Ketegangan di Selat Taiwan memuncak setelah Kementerian Pertahanan Taiwan laporkan deteksi kapal perang China dalam “operasi militer” luas pada Jumat 5 Desember 2025, pukul 19.00 waktu setempat. Penyebaran kapal perang dari Laut Kuning hingga Laut China Selatan—jangkauan ratusan kilometer—disebut Taipei sebagai “ancaman nyata” bagi stabilitas regional. Kepala Staf Gabungan Taiwan, Laksamana Josephine Shen, sebut ini bagian dari latihan evaluasi tahunan Beijing yang bisa berubah jadi simulasi serang Taiwan. China, yang klaim Taiwan bagian wilayahnya, tak konfirmasi tapi sebut latihan patuhi hukum internasional. Ini lanjutan pola sejak Mei 2025, saat Presiden Lai Ching-te naik tahta picu latihan besar—termasuk 90 kapal perang Desember lalu. Di tengah dukungan AS ke Taipei, insiden ini ingatkan risiko eskalasi, terutama saat Trump tekan sekutu Asia naikkan beban pertahanan. BERITA BOLA
Deteksi Kapal Perang dan Respons Taiwan: Taiwan Sebut China Kerahkan Kapal Perang Saat Operasi Militer
Taiwan deteksi armada China melalui radar dan satelit militer, sebut kapal perang termasuk kapal induk Liaoning dan kapal raket Type 055 membentang dari Laut Kuning ke Laut China Selatan. Shen bilang: “Ini bukan latihan biasa—mereka simulasi blokade dan patroli tempur.” Sejak pukul 14.22, 24 pesawat tempur China dekati Taiwan, 19 lintasi garis tengah Selat Taiwan untuk gabung patroli bersama kapal perang. Taipei aktifkan jet tempur F-16 dan kapal perusak untuk pantau, tanpa bentrokan langsung. Shen minta Beijing “latih restraint,” tambah: “Kami yakin tangani ini dengan baik.” Ini mirip latihan Februari 2025, saat China lakukan live-fire 40 mil dari pantai Taiwan—Taipei tuding langgar norma internasional. China, lewat juru bicara Jiang Bin, sebut latihan “aman dan profesional,” tak target negara spesifik.
Latar Belakang Latihan China dan Pola Ancaman: Taiwan Sebut China Kerahkan Kapal Perang Saat Operasi Militer
Oktober-Desember jadi “musim puncak” latihan evaluasi tahunan China, kata Kepala Intelijen Taiwan Tsai Ming-yen Rabu lalu. Partai Komunis bisa ubah latihan rutin jadi simulasi serang Taiwan, termasuk blokade rute laut. Desember lalu, 90 kapal perang dan kapal penjaga pantai China lakukan latihan terbesar bertahun-tahun: simulasi serang kapal asing dan blokade. Ini respons pidato Lai Mei 2025 yang tegaskan kedaulatan Taiwan—Beijing sebut ia “separatis.” Sejak 2022, China tingkatkan penyebaran: 76 pesawat dan 15 kapal dekati Taiwan April 2025, termasuk bomber H-6K bawa misil anti-kapal. Taipei laporkan 1.700 pelanggaran ADIZ tahun ini, naik 20 persen dari 2024. AS, pemasok senjata utama Taiwan, sinyal pergeseran: Trump sebut Jepang dan Korea Selatan ambil beban lebih di Asia, kurangi pasukan AS 30 persen sejak Januari.
Dampak Regional dan Respons Internasional
Penyebaran ini ancam stabilitas Asia Timur: Selat Taiwan rute 50 persen perdagangan global, termasuk chip Taiwan yang suplai 60 persen dunia. Harga minyak naik 1 persen Jumat pagi, khawatir gangguan. Filipina dan Jepang tingkatkan patroli, ingatkan latihan China Scarborough Shoal September 2025. AS kirim kapal perusak USS Higgins ke Selat Taiwan Kamis, konfirmasi “kami dukung Taiwan lawan agresi.” UE minta de-eskalasi, sebut latihan ini “provokasi.” China balas: “Latihan patuhi hukum internasional, tak target siapa pun.” Taipei yakin tangani sendiri: anggaran pertahanan naik 15 persen ke 20 miliar dolar 2025, termasuk jet F-16 baru. Tapi analis bilang, ini tes mental: China uji batas tanpa serang langsung, Taipei butuh dukungan AS stabil.
Kesimpulan
Taiwan sebut China kerahkan kapal perang dalam operasi militer luas jadi sinyal tegang baru di Selat Taiwan, di mana penyebaran dari Laut Kuning ke Selatan ancam perdagangan global. Dari deteksi 24 pesawat hingga minta restraint, Taipei tunjukkan ketangguhan—tapi pola latihan Beijing ingatkan risiko blokade. Di era Trump, AS tekan sekutu ambil beban, buat Taipei andalkan diri sendiri. Tanpa eskalasi, ini peluang dialog—China klaim latihan rutin, Taipei minta patuhi norma. Stabilitas Asia bergantung restraint kedua pihak: perang tak untungkan siapa pun, damai lewat diplomasi. Waktunya Beijing dan Taipei pilih dialog daripada kapal perang.